
4 petenis favorit
Empat wanita cantik di atas ini adalah petenis idola saya. Mereka yang selalu jadi magnet buat saya untuk mengikuti tenis. Mereka lah yang kadang saya rela menghabiskan waktu tidur saya cuma buat mengikuti livescore dari internet atau nonton siaran langsung dari tv kabel. Dua dari 4 pemain di atas memang sudah tidak bermain lagi di profesional, tapi saya masih mencintai mereka!
Saya menyukai Kim Clijsters sejak dia masuk final Perancis Terbuka 2001. Meskipun kalah di final dari Jenifer Capriati, Kim sudah menawan hati saya dengan permainan tenisnya yang cemerlang. Footworknya yang lincah, split yang mencengangkan, plus bullying game-nya benar-benar keren. Belum lagi kepopuleran Kim diluar lapangan sebagai pribadi yang ramah dan menyenangkan membuat saya semakin jatuh hati. Saking cintanya sama Kim, saya sampai anti dengan rekan satu negaranya, Justine Henin yang selalu saja menghalangi atas kesuksesan Kim. Saya sampai menangis ketika Kim akhirnya mendapatkan grandslamnya yang pertama di US open 2005. Saya juga menangis ketika Kim mengumumkan pengunduran dirinya dari tenis karena hamil dan menikah tahun 2007. Sebaliknya saya tersenyum lebar ketika Kim memutuskan main kembali dan mengejutkan dunia ketika merebut gelar grandslamnya yang kedua, US open 2009 hanya dalam turnamennya yang ke tiga.
Lindsay Davenport selalu ada di hati saya. Servisnya, forehand mautnya, kelambanannya di lapangan serta keramahannya akan selalu mendapat tempat di hati saya.
Angelique Widjaja adalah idola saya sejak dia masih berkutat di junior. Mulanya karena sentimen sebagai sesama warga Indonesia. Rasanya bangga sekali bakal ada generasi penerus Yayuk Basuki di pertenisan dunia. Ketika Angie juara Wimbledon, saya tidak kaget lagi. Yang membuat kaget justru waktu Angie menjuarai WTA wismilak di Bali 2001. Setelahnya, saya seolah-olah menjadi penggemar nomer 1-nya. Mengikuti forum di website pribadinya, kumpul-kumpul dengan sesama penggemar, Mengumpulkan artikel-artikel dan fotonya, ikut berdebat di forum tenis internasional dll…bahkan sampai sok akrab dengan ibunya…(saya pernah dikirimi makanan-makanan kecil oleh ibunya Angie menjelang natal suatu ketika hahaha). Sayang Angie kurang beruntung, cedera menghantuinya dan akhirnya malah gantung raket.
Saat ini saya mengidolakan Caroline Wozniaki. Cantik, Stabil dan masih punya prospek yang bagus. Saat final US open 2009 yang lalu saya mungkin orang yang paling bahagia karena dua idola saya berhadapan di final. Saya yakin Caro dalam waktu dekat akan menjelma jadi petenis nomer 1.